WISATA RELIGIUS SURAU LUBUAK LANDUA

 

Lubuak Landua merupakan salah satu jorong (desa) di Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, berjarak 10 Km dari Kota Simpang Empat atau 4 jam perjalanan dari Kota Padang.

Jorong Lubuak landau terletak di kaki Gunung Pasaman, sebuah desa yang asri dan berhawa sejuk karena memiliki ketinggian 300 m dpl.  Masyarakatnya sebagian besar bekerja sebagai petani, kondisi alam menjadi Lubuak Landua memiliki sawah yang luas karena sumber air yang melimpah.

Masyarakat Lubuak Landua sangat agamais, konon kabarnya penyebaran agama Islam pertama di Pasaman Barat berada di Lubuak Landua.  Sejarah ini dibuktikan dengan Surau (Mesjid) tua yang masih berdiri, diperkirakan usia surau ini sekitar 155 tahun.

Saat ini surau Lubuak Landua selalu ramai didatangi orang yang berkunjung.  Selain untuk berwisata juga ada yang berziarah ke makam Buya Lubuak Landua, dan tidak sedikit pula peziarah meminta doa di makam tersebut.  Air yang berada di makam buya Lubuak Landua dengan wadah kulit kerang dipercaya dapat membuka hati dan menerangi jiwa yang diselimuti masalah, dengan jalan meneteskannya ke mata dan meminumnya.  Ada juga yang dating ke surau ini untuk melakukan suluak, suatu cara beribadah kepada Allah dengan mengurung diri di tempat yang berukuran kecil yang tetutup oleh kain, hingga dapat petujuk dariNya dibawah bimbingan buya Lubuak Landua

 

Surau Lubuak Landua berusia 155 th

Kubah Surau, arsitek Minang

Makam Buya Lubuak Landua

Air pada kerang ini dipercaya sebgai obat

   
Penjaga Makam dan Epi Saputra sekretaris Wampel

Nurbaiti sedang melaksanakan suluak

   

SEJARAH RINGKAS DINASTY BUYA LUBUAK LANDUA NAGARI AUR KUNING

KECAMATAN PASAMAN KABUPATEN PASAMAN BARAT

Pada tahun 1852, didirikanlah Surau (Mesjid) oleh Buya Lubuak Landua I (Pertama) yang bernama: Tuanku Khalifah Sutan Saidina Syech Basyir atau dikenal dengan nama Syeh Basyir.  Pada masa kepemimpinan beliaulah dimulainya ikan larangan di sungai dilokasi surau Lubuak Landua. Beliau wafat pada tahun 1922, dalam usia 122 tahun. Dengan wafatnya Buya Lubuak Landua I, kepemimpinan surau diamanahkan kepada putra beliau yaitu: Syech Muhammad Amin  / Buya Lubuak Landua II. Kepemimpinan beliau tidak berlangsung lama karena pada tahun 1927 buya, berpulang kerahmatullah. Sepeninggal beliau kepemimpinan Buya lubuak Landua III, di  Imami oleh: Syech Abdul Majid, Buya dikaruniai beberapa putra diantaranya yang cukup familiar bagi masyarakat Pasaman Barat adalah: Syamsul Bayan (mantan anggota DPRD Sumatera Barat dari PPP), Syaikul Ikhwan (mantan anggota DPR-RI daerah pemilihan RIAU juga dari PPP) dan Syech Mustafa Kamal (Buya Kapa). Syech Abdul Majid dipanggil Yang Maha Kuasa pada tahun 1984 (+ 57 tahun memimpin surau), setelah beliau wafat kepemimpinan surau tidak lagi dilimpahkan kepada putra beliau seperti yang dilaksanakan sebelumnya, akan tetapi kepemimpinan surau diamanahkan kepada adik beliau yaitu: Syech Abdul Jabar (Buya Lubuak Landua IV), kepemimpinan beliau juga tidak berlangsung lama karena pada tahun 1991 beliau wafat setelah lebih kurang 7 tahun memimpin surau. Sejarah berulang kembali dimana kepemimpinan surau diamanahkan kembali kepada putra beliau yaitu: Syech Bahri (Buya Lubuak Landua V, sampai sekarang).

Syech Muhammad Amin

Syech Amdul Majid

Syech Bahri

 

Objek wisata Lubuak Landua yang ramai dikunjungi wisatawan adalah ikan larangan yang berada di sungai Batang Luan, yang mengalir di tepi surau Lubuak Landua.  Ikan-ikan ini telah berusia ratusan tahun sama usianya dengan surau Lubuak Landua.

Ikan larangan adalah ikan sungai (Gariang) dipelihara dengan memberi makan dan tidak boleh diambil sesuai dengan kesepakatan masyarakat. Dulunya ikan-ikan ini diberi uduah semacam ilmu teloh, agar tidak dicuri, apabila ada yang mencurinya akan mendapat penyakit bahkan mengakibatkan kematian. Namun saat ini hal tersebut sudah tidak digunakan lagi.  Tujuan utama dari memelihara ikan liar di sungai ini adalah untuk sumber bibit ikan, melestarikan lingkungan, menjadikan sungai bersih dari kotoran dan sebagai daya tarik pengunjung dari luar daerah (objek wisata

 

 

Pengunjung ramai di hari libur

Airnya jernih yang berasal dari Gunung Pasaman

Air sungai yang bening membuat ikat kelihatan dengan jelas

Ikan Gariang, cuma bisa hidup disungai

Anak-anak sangat senang memberi makan ikan